Rabu, 07 Agustus 2024

BLOG RANGKUMAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Koneksi Antar Materi Modul 3.1
By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10

 

Guru sebagai pendidik tidak hanya berperan untuk mentransfer ilmu, tetapi juga harus berperan sebagai pamong/ memberikan tuntunan kepada peserta didik. Pemahaman materi memang penting namun menuntun murid memiliki kepribadian yang sesuai profil pelajar pancasila harus menjadi target utama. Tujuannya adalah mereka dapat hidup di masyarakat dengan damai, bermanfaat bagi sekitar, dan tentunya bisa melayani masyarakat dengan baik. Murid harus diberikan motivasi untuk belajar sepanjang hayat/ long life education. Sehingga tujuan pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara dapat terwujud.

 

Dalam pengambilan setiap keputusan seharusnya dapat dipertanggungjawabkan, tidak bertentangan dengan nilai kebajikan, dan berpihak pada murid. Dengan 3 dasar ini kita dapat mengambil keputusan yang memaksimalkan dampak positif. Adapun 3 prinsip pengambilan keputusan adalah prinsip berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis aturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Dengan 3 prinsip ini dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi setiap keputusan yang diambil. Pertimbangan dan langkah sesuai dengan 9 langkah pengambilan keputusan dimana sebuah keputusan harus melalui proses dan tidak dihasilkan secara instan. Dengan demikian, dapat mengambil keputusan dengan sebaik mungkin. Dalam proses pengambilan keputusan, dapat menerapkan tahapan coaching sehingga coachee dapat menemukan solusi atas masalahnya sendiri dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003). Coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International Coach Federation -ICF). Tujuan utama coaching adalah membantu coacheeberpikir kritis dan kreatif untuk menemukan sendiri solusi berdasarkan potensi yang dimiliki. Coachee sebenarnya sudah diarahkan melakukan 9 langkah mengambil keputusan dengan proses coaching ini sehingga diharapkan dapat mengambil keputusan yang terbaik.

Menurut saya, pendidikan bersifat relatif, tidak kaku, dan sebagai seni yang indah, bermakna dalam. Pendidikan berfungsi sebagai terapan maupun keindahan. Dengan segala dinamika dan sentuhannya, kayu yang awalnya biasa dapat dibentuk sebagai barang tepat guna maupun ditonjolkan lekukannya untuk menjadi mahakarya yang indah. Seperti itu juga pendidikan dengan segala prosesnya dapat menguatkan karakter murid, mempertajam pikiran dan menanamkan nilai-nilai kebajikan sehingga murid dapat menguasai ilmu dan teknologi, memanfaatkannya bagi kehidupannya di masyarakat.

Patrap Triloka adalah ajaran KHD yang memuat 3 hal yaitu ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memotivasi), dan tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan). Sebagai seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan dan panutan, menjadi motivator yang selalu mengutamakan komunikasi efektif agar selalu terjalin relasi yang baik. Dengan patrap triloka ini diharapkan pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid. Dasar dalam pengambilan keputusan mencakup 3 hal yaitu nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Nilai-nilai tersebut yang akan menjadi dasar penentuan benar/salah sehingga kita dapat membedakan kasus yang termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Dalam pengambilan keputusan, diperlukan emosi yang stabil sehingga pengambil keputusan didasari oleh kesadaran diri dan kesadaran sosial yang baik. Pada proses pengambilan keputusan, pikiran jernih sangat berpengaruh pada identifikasi dilema etika/bujukan moral, melakukan berbagai uji, dan prinsip yang akan digunakan dalam penyelesaian suatu masalah. Pada langkah pertama pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus bisa mengenali nilai-nilai kebenaran yang saling bertentangan. Nilai-nilai tersebut berperan dalam mengidentifikasi apakah benar/salah. Pada uji intuisi seseorang akan membandingkan dan mengkonfirmasi apakah suatu keputusan sesuai dengan kode etik keprofesian dan nilai- nilai kebajikan yang selama ini diyakini. Suatu keputusan yang tepat akan mengedepankan kepentingan umum dari pada individu. Hal ini akan mewujudkan rasa nyaman, dilindungi, adil, tanpa protes yang akan mengakibatkan ketidaknyamanan di lingkungan tersebut. Kondisi ketidaknyaman tentunya akan dirasakan beberapa orang saat keputusan dihasilkan, namun dengan proses adaptif dan prinsip mendapatkan hasil terbaik, maka akan tercipta suasana aman dan nyaman yang dapat dirasakan oleh semua pihak.

Tantangan-tantangan di lingkungan saya pada pengambilan keputusan kasus dilema etika adalah cara pandang/ mindset yang melemahkan kebijakan/peraturan dalam sebuah intitusi akibat keputusan yang diambil. Secara umum, pengambilan keputusan masih kaku, dan peraturan yang sudah ada harus ditaati. Ketika dihadapkan dengan persoalan dilema etika, secara umum masih mengacu pada aturan yang ada tanpa memikirkan apakah keputusan yang diambil berpihak pada murid atau tidak.

Seorang pemimpin pembelajaran selalu mengusahakan keputusan yang berpihak pada murid. Dengan berbagai prinsip pengambilan keputusan yaitu ends-based thinking, rule-based thinking, dan care-based thinking, maka keputusan selalu mengedepankan kebaikan untuk masa depan murid. Guru sebagai fasilitator tentunya berperan sebagai penuntun sekaligus teladan yang dapat diadopsi cara dan langkahnya dalam penyelesaian masalah yang dihadapi.

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pemebelajaran modul 3.1 adalah bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru harus dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai – nilai kebajikan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid. Sesuai dengan ajaran KHD bahwa pendidikan adalah menuntun murid mencapai kebahagiaan (modul 1.1). Pendidik harus berperan berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif (modul 1.2). Dalam pengambilan keputusan kita akan mengaplikasikan kelima peran guru penggerak. Selain berpihak pada murid, guru harus mandiri dan reflektif. Setiap keputusan yang diambil dievaluasi secara mandiri dan dibuat refleksi untuk memastikan dampak positif dari pengambilan keputusan.

 

Guru diharapkan menjadi pemrakarsa perubahan, hal ini melibatkan banyak pengambilan keputusan yang besar. Sebagai acuan guru dapat menyusun visi yang berorientasi ke depan untuk diri, murid, dan sekolah secara keseluruhan. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan BAGJA (Buat Pertanyaan – Ambil Pelajaran – Gali Mimpi – Atur Eksekusi – Jabarkan Rencana) (modul 1.3). Melalui langkah – langkah ini dapat dipahami bahwa setiap keputusan membuat suatu perubahan semuanya mengedepankan manfaat dan evaluasi untuk memastikan apa yang dijalankan adalah sesuai dengan visi masa depan.

 

Visi akan terwujud jika budaya positif di sekolah sudah terwujud. Ada keyakinan kelas maupun sekolah yang disepakati bersama. Jika ada penyimpangan, dilakukan penyelesaian masalah dengan segitigita restitusi sehingga pihak – pihak yang terlibat menyadari kesalahannya dan menemukan solusi atas permasalahannya (modul 1.4). Disini sering terjadi juga dilema etika dan bujukan moral yang harus dikenali dengan baik oleh pemimpin pembelajaran sehingga keputusan yang dihasilkan adalah tepat dan berdampak positif. Dengan demikian akan terwujud masyarakat sekolah yang harmonis dan berdisiplin positif.

 

Visi dalam pembelajaran tentunya memenuhi kebutuhan setiap murid. Guru dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memfasilitasi murid dengan berbagai kemajemukan gaya belajar dan tingkat kesiapan (modul 2.1). Dengan bantuan tes diagnostik dan karakteristik materi yang akan dipelajari oleh murid, seorang guru harus membuat suatu keputusan model dan strategi pembelajaran yang akan dipilih. Hal ini tentu membutuhkan banyak pertimbangan dan perencanaan. Keputusan macam diferensiasi yang akan dipilih dan dikembangkan dalam modul ajar atau RPP dapat dievaluasi efektif atau tidaknya dengan evaluasi hasil belajar siswa.

 

Setiap keputusan yang baik tentunya dihasilkan oleh pikiran yang jernih dan kondisi emosi yang stabil. Sebagai pemimpin pembelajaran yang berinteraksi dengan murid yang beragam tentunya tidak jarang menemukan masalah – masalah yang dapat mengganggu proses pembelajaran itu sendiri. Disinilah Kesadaran Sosial Emosional (KSE) harus berjalan dengan baik (modul 2.2). KSE ini meliputi Kesadaran diri, Manajemen diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab. Dalam penyelesaian masalah seseorang harus hadir sepenuhnya (mindfullness) sehingga fokus menjadi baik dan keputusan yang diambil sesedikit mungkin dampak negatifnya.

 

Dampak negatif yang kecil dapat kita peroleh juga dengan proses coaching yang baik, dimana coach berperan sebagai mitra yang siap membantu coachee untuk meningkatkan performa kerja, menemukan solusi atas permasalahannya, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dalam pembelajaran utamanya, peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui supervisi akademik (modul 2.3).

 

Menurut pemahaman saya, sebagai pemimpin pembelajaran, dalam membuat keputusan/penyelesaian masalah dasar utamanya ada 3 hal yaitu nilai – nilai kebajikan, dapat dipertanggungjawabkan, dan berpihak pada murid. Nilai – nilai kebajikan ini digunakan untuk mengenali dua kasus yang bernilai benar namun bertentangan. Nilai ini juga untuk dasar melakukan pengujian keputusan.  Prinsip yang digunakan diantaranya ends-based thinking, rule-based thinking, dan care-based thinking. Dengan berbagai macam pertimbangan dan langkah – langkah diharapkan hasil yang diperoleh merupakan keputusan terbaik dengan memaksimalkan dampak positif dan win – win solution untuk semua pihak. Hal – hal tidak terduga yang diluar dugaan adalah dengan komunikasi dan kolaborasi pengambilan keputusan dapat lebih maksimal menghasilkan berbagai alternatif penyelesaian (opsi trilema) sehingga kedua hal ini sangatlah penting dalam proses pengambilan keputusan.

 


11 komentar:

  1. Mantap pak makder.. sangat menginspirasi... Tetap semangat pak.. untuk tergerak, bergerak dan menggerakkan...

    BalasHapus
  2. Pak Makder memang selalu memberikan inspirasi untuk guru lainnya, terus berkarya 🙏💪👍💪

    BalasHapus
  3. Ketua kami yang sangat inspiratif, good job Pak, sukses terus tuk Pak Makder

    BalasHapus
  4. Luar biasa Pak Makder, untaian kata yang mempunyai makna sangat inspiratif. Teruslah berkarya, dan berbagi kebaikan. Sukses untuk Pak Makder

    BalasHapus
  5. Mantap pak Makder luar biasa sangat menginspirasi....semoga sukses pak....

    BalasHapus
  6. Mantap pak...mjd seorang guru tidak hanya bisa mengajar saja..harus bisa memberikan nilai nilai moral dan etika,kebajikan agar mereka dpt bermanfaat ditengah tengah kehidupan bermasyarakat...👍

    BalasHapus
  7. Mantap.. Bernilai positif ,,terus menghasilkan karya yang membangun dan menginspirasi banyak orang

    BalasHapus
  8. Menginspirasi kami sebagai rekan guru untuk memahami Nilai - nilai Etika di dalam lingkungan masyarakat dan sekolah.
    Sukses selalu Pak Makder Lumban Gaol...

    BalasHapus
  9. luar biasa pak ketua... menginspirasi sekali. kebajikan universal adalah nilai-nilai yang menjadi tumpuan dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin

    BalasHapus