PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Koneksi Antar Materi Modul 3.2
By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10
Pemimpin Pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya merupakan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan potensi sumber daya/ aset utama daerah/ di ekosistem sekolahnya dan mampu mendukung komunitas agar dapat memanfaatkan dan memberdayakan seluruh sumber daya aset-aset tersebut seoptimal mungkin untuk mewujudkan perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid secara berkesinambungan. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya, seperti hubungan antara Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat sekitar sekolah. Sedangkan faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan dan Sarana dan prasarana.
Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan secara
efektif dan efisien, tentu membutuhkan peran seluruh warga sekolah melalui
pendekatan komunitas berbasis aset. Asset-Based Community Development (ABCD) atau Pengembangan Komunitas Berbasis
Aset (PKBA) adalah suatu pendekatan menekankan pada nilai, prinsip, cara
berpikir mengenai dunia, memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan,
pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Sumber
daya sebagai suatu komunitas sekolah adalah suatu kesatuan yang tidak bisa
berdiri sendiri. Dalam pengelolaan sumber daya oleh Pemimpin Pembelajaran dalam
pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki dikelola dengan baik oleh
seorang pemimpin pembelajaran. Pemanfaatan sumber daya yang ada di sekolah
menjadi modal utama dalam membangun kekuatan atau potensi dalam ruang lingkup
warga sekolah, lingkungan dan masyarakat, yang bermuara pada kebermanfaatan
bagi peserta didik.
Dengan
mengidentifikasi sumber daya yang dimiliki sekolah, serta dua komponen penting
dalam ekosistem sekolah, maka sudah seharusnya sebagai pemimpin pembelajaran
diharuskan bisa memetakan 7 aset atau modal utama dalam sekolah dan tugas
sebagai pemimpin adalah bagaimana mengelola ketujuh aset sekolah atau sumber
daya tersebut untuk kepentingan dan kemajuan sekolah. Adapun 7 modal utama
yang terdapat di sekolah, yakni 1) modal manusia, 2) modal fisik, 3) modal
sosial, 4) modal finansial, 5) modal politik, 6) modal lingkungan/alam, 7)
modal agama dan budaya.
Seorang pemimpin pembelajaran harus bisa mengelola asset yang ada
dengan pendekatan positif agar bisa memanfaatkan asset yang ada untuk
kepentingan pembelajaran yang berkualitas, sehingga bisa mewujudkan siswa yang
selamat dan bahagia. Pengelolaan
sumber daya yang tepat dan dapat mendorong pada proses pembelajaran di kelas
menjadi lebih berkualitas merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya yang
ada di sekolah.
Ada dua
pendekatan berfikir dalam pengelolaan asset, diantaranya adalah pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based
Thinking) akan melihat dengan cara pandang negative, memusatkan
perhatian pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak
bekerja. Berikutnya adalah pendekatan berbasis aset (Asset-Based
Thinking) adalah memusatkan pikiran pada kekuatan positif, pada
apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi
yang positif.
Dari berberapa
sumber daya yang ada disekolah tentu memiliki kontribusi dan hubungan dalam
membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas apabila sumber
daya tersebut dikolola dengan tepat:
1. Modal Manusia
Guru Yang mandiri, reflektif,
kolaboratif, inovatif,dan berpihak pada murid akan mampu menciptakan murid yang
memiliki profil pelajar pancasila.
2. Modal Fisik
Sarana dan Prasarana sekolah yang memadai
akan sangat menunjang proses Kegiatan Belajar Mengajar
3. Modal Sosial
Relasi baik dengan berbagai di lingkungan
sekitar dapat menjadi mitra sekolah dalam memenuhi sumber belajar siswa
4. Modal Finansial
Dana BOSDA, Dana BOSNAS, dan lain lain
yang dapat membantu operasional sekolah
5. Modal Politik
Keterlibatan Guru dalam organisasi profesi
misalkan : MGMP, PGRI, IGI
6. Modal Lingkungan
Lingkungan yang ASRI dapat membuat murid
merasa nyaman selama KBM Di sekolah
7. Modal Agama & Budaya
Pembiasaan kegiatan keagamaan yang dapat
meningkatkan keimanan, dan mata pelajaran seni budaya , Bahasa Melayu dapat
menguatkan budaya serta kearifan local
Beberapa contoh
bagaimana materi ini juga berhubungan/keterkaitan dengan modul
lainnya/sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional – Ki Hadjar Dewantara
Ki
Hadjar Dewantara melalui filosiofinya bahwa pendidikan “ kegiatan menuntun
segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak agar mereka mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setingi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota
masyarakat.” Pemanfaatan asset kekuatan guru dan murid sehingga guru sebagai
pemimpin pembelajaran harus dapat melakukan proses pembelajaran yang menyenangkan,
dan berpihak pada murid.
Nilai dan Peran Guru Penggerak
Guru
sebagai pemimpin pembelajaran memiliki nilai dan peran yang sangat penting
dalam pembelajarn di kelas sehingga nilai-nilai mandiri, kolaboratif, reflektif,
inovatif dan berpihak pada murid harus dijadikan landasan dalam terciptanya
pebelajar yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Guru sebagai pendidik berperan
dalam membangun sinergi di lingkungan sekolah sebagai pemimpin pembelajaran,
menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong
kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid, dengan nilai dan
peran guru secara aktif.
Visi Guru Penggerak
Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus
memilki Visi guru penggerak yang berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) melalui
konsep ATAP dan BAGJA. Pada konsep terebut dapat digunakan sebagai pengelolaan
sumber daya yang ada disekolah. Hal ini sesuai dengan Cooperrider & Whitney
(2005), yang menyatakan bahwa Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi,
landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif
dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu,
masa kini, maupun masa depan.
Budaya Positif
Budaya
positif di lingkungan sekolah merupakan budaya yang mendukung segala bentuk
perkembangan murid dengan tujuan memanusikan manusia dengan menerapkan disiplin
positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol
restitusi, keyakinan sekolah/kelas, sehingga akan menghasilkan produk murid
yang memiliki karakter kuat di masa depan.
Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Murid (Berdiferensiasi)
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah salah satu solusi dalam pembelajaran yang sangat
berpihak kepada murid dengan mengakomodir kebutuhan murid dari kesiapan belajar,
minat dan profil belajar murid. Sebelum melaksanakan pembelajaran
berdiferensiasi, seorang guru harus sudah melaksakanan pemetaan terhadap minat
belajar siswa. Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi akan terwujud, jika
pemanfaatan sumber daya yang ada disekolah seperti guru dan murid, seta modal
lingkungan, modal fisik dan yang lainnya dapat dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya.
Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pembelajaran
Sosial Emosional (PSE) menekankan pada keterampilan dan pengelolaan mengenai
aspek-aspek sosial emosional. Teknik kesadaran diri (mindfulness) dapat
dijadikan strategi bagaimana cara mengelola sumber daya manusia.
Coaching untuk Supervisi Akademik
Coaching
merupakan sebuah strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk melakukan
pengembangan kekuatan diri pada diri anak dengan menuntun, mendampingi anak,
untuk menggali potensi anak dan memaksimalkannya. Pada proses Coachee
memberikan kesempatan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir pada
diri anak, yang didalamnya terdapat Caach sebagai pengembangan kekuatan dan
potensi pada coachee.
Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan Seorang
Pemimpin
Sebagai
pemimpin pembelajaran sering dihadapkan dengan dilema etika dan bujukan moral. Sebagai
pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang baik, diharapkan pada
pengambilan keputusan tersebut dengan mengedepankan keputusan-keputusan yang
bermanfaat bagi seluruh elemen yang terlibat didalamnya,yaitu dengan
langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarakn 4 paradigma, 3 prinsip dan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah
Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah
Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini
Sebelum
mempelajari dan memahami modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya.
Dalam langkah-langkah pengelolaan kelas atau pengambilan keputusan lebih banyak
berpikir pada kekurangan/ masalah. Saya sering pesimis, ada keragu-raguan dalam
menyelesaikan permasalahan. Dengan mempelajari modul 3.2 ini, wawasan dan pola
pikir mengenai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya ini menjadi
berubah. Pemimpin harus mengedepankan pola pikir berbasis kekuatan/aset yang
dimiliki. Hal ini akan merubah minset
dan berpikir positif, optimis dengan memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya
atau aset yang ada.

.jpeg)