COACHING
UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Koneksi Antar Materi
Modul 2.3
By: Makder
Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10
Menurut
Grant, Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses
kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Coaching merupakan kegiatan yang lebih kepada membantu seseorang untuk
belajar daripada mengajarinya.
Filosofi Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan peserta didik dengan menggunakan pendekatan coaching. Guru sebagai pendidik dengan semangat Tut Wuri Handayani, harus menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat menuntun.
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara
guru dan peserta didik, peserta didik diberikan keleluasaan untuk menemukan
kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan
memberdayakan potensi yang ada agar peserta didik tidak kehilangan arah dan
menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga
dapat membantu seorang coachee untuk
menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran.
Pendekatan komunikasi dengan proses coaching
merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee. Adapun paradigma Berpikir coaching adalah fokus
pada coachee yang akan dikembangkan, bersikap
terbuka dan ingin tahu, memiliki
kesadaran diri yang kuat dan mampu
melihat peluang baru dan masa depan. Sedangkan
prinsip coaching adalah
kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Sebagai guru, kompetensi
inti yang harus dimiliki dalam menerapkan coaching adalah kehadiran penuh/presence,
mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot.
Adapun tahapan coaching dengan Alur TIRTA
adalah sebagai berikut:
1.
Tujuan Umum
Coach dan coachee menyepakati tujuan
pembicaraan yang akan berlangsung. Tentunya tujuan ini diharapkan datang dari
coachee.
2. Identifikasi
Coach melakukan penggalian dan pemetaan
situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada
pada saat sesi.
3. Rencana Aksi
Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk
rencana yang akan dibuat
4. Tanggungjawab
Membuat komitmen atas hasil yang dicapai
Dalam penerapan supervisi akademik dengan paradigma
berpikir coaching harus memperhatikan paradigma
utama dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni
paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi
setiap individu.
Prinsip supervisi akademik dengan paradigma
berpikir coaching meliputi kemitraan, proses kolaboratif antara supervisor dan
guru, konstrukti bertujuan mengembangkan kompetensi individu, terencana,
reflektif, objektif, informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah
disepakati, berkesinambungan, komprehensif: mencakup tujuan dari proses
supervisi akademik.
Sedangkan pelaksanaan supervisi akademik
didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga
tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Tahap
perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan
guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan
mempersiapkan ragam instrumen.
Refleksi saya tentang coaching untuk supervisi akademik yaitu,
semakin banyak melakukan praktik coaching maka akan semakin terasah kemampuan
kita sebagai coach untuk hadir penuh (presence), mendengarkan aktif, dan
mengajukan pertanyaan berbobot. Adanya tantangan dalam menerapkan praktik
coaching secara berkelanjutan dengan peserta didik atau rekan sejawat agar
mendapatkan ketrampilan coaching untuk supervisi akademik. Hal yang sudah baik
adalah memperoleh pemahaman dan pencerahan tentang materi coaching untuk
supervisi akademik dan sudah mempraktikkannya. Hal yang perlu diperbaiki adalah
langkah-langkah yang baik dan bijak pada mengajukan pertanyaan yang berbobot
kepada coachee.
Peran saya sebagai seorang coach di sekolah memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan peserta didik.
Coach tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membantu peserta
didik dalam pengembangan sosial dan emosional mereka. Dalam hal ini, saya
sebagai pendidik akan menjelaskan peran seorang coach di sekolah dan
keterkaitannya dengan materi pembelajaran berdiferensiasi serta pembelajaran
sosial dan emosional.
Keterkaitan materi Pembelajaran Berdiferensiasi
dan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE),
dengan materi coaching adalah guru sebagai pendidik harus berusaha dengan
maksimal untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang terdiri dari
kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik.
Dalam memetakan kebutuhan individu peserta
didik, guru berperan sebagai coach untuk melakukan proses coaching dengan peserta
didik sebagai coachee. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan potensi yang ada
dalam diri peserta didik sehingga akan menemukan cara terbaik dalam memenuhi
kebutuhan individu peserta didik.
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang dilakukan
secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah untuk menumbukan kompetensi
tentang kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan
berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada diri peserta
didik. Proses coaching sejalan dengan PSE karena kompetensi sosial emosional tersebut
dapat diterapkan oleh guru dalam proses coaching kepada peserta didik.
Pendekatan Sosial dan
Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, melalui
pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan
menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan
diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif
dari berbagai sudut pandang.
Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran adalah guru sebagai pendidik berperan sebagai pemimpin pembelajaran. Guru harus mampu berperan sebagai coach bagi guru lain. Sesuai dengan peran tersebut seorang guru harus mampu menjadi rekan kerja yang baik bagi guru lainnya dalam menyelesaikan masalah. Guru harus memiliki kesadaran diri serta kesadaran sosial yang baik ketika melakukan coaching. Dengan demikian, keterkaitan peran coach, pembelajaran berdiferensiasi, dan pembelajaran sosial dan emosional menunjukkan bahwa keterampilan coaching adalah keterampilan penting yang dapat mendukung pembelajaran dan pengembangan kompetensi guru.
