Rabu, 17 Juli 2024

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Koneksi Antar Materi Modul 2.3
By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10

 

Menurut Grant, Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Coaching merupakan kegiatan yang lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.


Adapun tujuan coaching adalah menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau menemukan cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mencapai tujuan yang dikehendaki. Coach berperan menghantarkan coachee melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan, coachee sendiri yang mengambil keputusan. Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. 

Filosofi Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat  yang menguatkan keterampilan komunikasi guru dan peserta didik dengan menggunakan pendekatan coaching. Guru sebagai pendidik dengan semangat Tut Wuri Handayani, harus  menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai salah pendekatan komunikasi dengan semangat menuntun. 

 

Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan peserta didik, peserta didik diberikan keleluasaan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar peserta didik tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran.

 

Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee. Adapun paradigma Berpikir coaching adalah fokus pada coachee yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat dan mampu melihat peluang baru dan masa depan. Sedangkan  prinsip coaching adalah kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Sebagai guru, kompetensi inti yang harus dimiliki dalam menerapkan coaching adalah kehadiran penuh/presence, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot.

Adapun tahapan coaching dengan Alur TIRTA adalah sebagai berikut:

1.        Tujuan Umum

Coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Tentunya tujuan ini diharapkan datang dari coachee.

2.       Identifikasi

Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

3.      Rencana Aksi

Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat

4.      Tanggungjawab

Membuat komitmen atas hasil yang dicapai

Dalam penerapan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching harus memperhatikan paradigma utama dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.

Prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi kemitraan, proses kolaboratif antara supervisor dan guru, konstrukti bertujuan mengembangkan kompetensi individu, terencana, reflektif, objektif, informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati, berkesinambungan, komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.

Sedangkan pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

Refleksi saya tentang coaching untuk supervisi akademik yaitu, semakin banyak melakukan praktik coaching maka akan semakin terasah kemampuan kita sebagai coach untuk hadir penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. Adanya tantangan dalam menerapkan praktik coaching secara berkelanjutan dengan peserta didik atau rekan sejawat agar mendapatkan ketrampilan coaching untuk supervisi akademik. Hal yang sudah baik adalah memperoleh pemahaman dan pencerahan tentang materi coaching untuk supervisi akademik dan sudah mempraktikkannya. Hal yang perlu diperbaiki adalah langkah-langkah yang baik dan bijak pada mengajukan pertanyaan yang berbobot kepada coachee.

Peran saya sebagai seorang coach di sekolah memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan peserta didik. Coach tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membantu peserta didik dalam pengembangan sosial dan emosional mereka. Dalam hal ini, saya sebagai pendidik akan menjelaskan peran seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi pembelajaran berdiferensiasi serta pembelajaran sosial dan emosional.

Keterkaitan materi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), dengan materi coaching adalah guru sebagai pendidik harus berusaha dengan maksimal untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang terdiri dari kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar peserta didik.

Dalam memetakan kebutuhan individu peserta didik, guru berperan sebagai coach untuk melakukan proses coaching dengan peserta didik sebagai coachee. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri peserta didik sehingga akan menemukan cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan individu peserta didik.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah untuk menumbukan kompetensi tentang kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada diri peserta didik. Proses coaching sejalan dengan PSE karena kompetensi sosial emosional tersebut dapat diterapkan oleh guru dalam proses coaching kepada peserta didik.

Pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang.

Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran adalah guru sebagai pendidik berperan sebagai pemimpin pembelajaran. Guru harus mampu berperan sebagai coach bagi guru lain. Sesuai dengan peran tersebut seorang guru harus mampu menjadi rekan kerja yang baik bagi guru lainnya dalam menyelesaikan masalah. Guru harus memiliki kesadaran diri serta kesadaran sosial yang baik ketika melakukan coaching. Dengan demikian, keterkaitan peran coach, pembelajaran berdiferensiasi, dan pembelajaran sosial dan emosional menunjukkan bahwa keterampilan coaching adalah keterampilan penting yang dapat mendukung pembelajaran dan pengembangan kompetensi guru.