PENGELOLAAN
PROGRAM
YANG
BERDAMPAK POSITIF PADA MURID
Koneksi Antar Materi Modul 3.3
By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10
Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid adalah sebuah program yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid yang mengajak para guru untuk berefleksi dan melihat kembali perspektif atau cara pandang kita tentang program yang berdampak positif pada murid. Program-program sekolah, baik program intrakurikuler, kokurikuler, atau ekstra kurikuler dapat mendorong kepemimpinan murid (student agency).
Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan.
Bagaimana perasaan Anda setelah mempelajari modul ini?
Perasaan
saya setelah mempelajari Modul 3.3 dengan materi Pengelolaan Program yang
Berdampak Positip pada Murid, adalah sangat senang dan bahagia, karena saya
sebagai pendidik mengetahui bagaimana membuat program yang berdampak positif
pada murid. Program yang berdampak positip pada murid sangat didambakan oleh
sekolah, karena pada dasarnya seluruh sekolah adalah untuk mendidik murid
menjadi lebih baik, sehingga program sekolah sudah selayaknya berdampak positip
bagi murid.
Sesudah mempelajari materi pengelolaan program yang berdampak positif pada murid, saya sebagai pendidik mengetahui dan menyadari bahwa tugas guru adalah membimbing dan menuntun murid agar mereka mampu memimpin proses belajarnya sendiri sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Guru menyadari bahwa murid sebagai mitra bagi guru dalam pembelajaran, mengupayakan terwujudnya lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya murid-murid yang mampu menjadi pemimpin dalam proses pembelajarannya sendiri dan menerapkan konsep kepemimpinan murid .
Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?
Pentingnya
kepemimpinan murid dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila,
yaitu berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong
royong, bernalar kritis, dan kreatif.
Murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran sebenarnya
memiliki suara ,pilihan dan
kepemilikan . Lewat suara,
pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya
menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Tugas guru
menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara,
pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka
tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka
merefleksikan tindakan mereka.
Lingkungan
yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik
diantaranya:
·
Menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir
positif dan merasakan emosi yang positif.
·
Keterampilan berinteraksi sosial secara positif
·
Keterampilan dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun
non-akademik
·
Menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat
dan lingkungan di sekitarnya
·
Membuka wawasan menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan
atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan
individu, kelompok, maupun golongan
·
Menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam
proses belajarnya sendiri
·
Menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus
bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
Apa keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini
dengan modul-modul sebelumnya?
Keterkaitan yang dapat saya lihat antara Modul ini dengan modul-modul sebelumnya pengelolaan program sekolah tentunya harus berdampak pada murid dengan merancang dan mengelola program sekolah yang berdampak positif pada murid. Keterkaitan modul ini dengan modul-modul sebelumnya saling mendukung dan melengkapi dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid.
Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara
Guru sebagai pendidik mempunyai peran strategis untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak, sehingga mereka dapat bahagia dan selamat sebagai individu masyarakat. Adapun dalam mengelola program sekolah yang berdampak pada murid hendaknya melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi atau kodrat murid. Murid adalah pribadi yang unik dan utuh, sehingga guru dapat menuntun murid sesuai dengan kodratnya.
Modul 1.2 Nilai dan peran guru penggerak
Nilai-nilai dari seorang guru penggerak yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Nilai dan peran dari guru penggerak tidak terlepas dari cita-cita mulia untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Dalam menjalankan perannya, seorang guru tidak hanya berperan sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, namun juga memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak dan berdampak positif pada murid .
Modul 1.3 Visi guru penggerak
Guru memiliki visi kepada perubahan, baik perubahan di kelas atau perubahan di sekolah. Untuk mencapai perubahan tersebut guru perlu mengenal pendekatan manajemen perubahan. Manajemen pendekatan perubahan disebut Inkuiri Apresiatif (IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid dilakukan dengan menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA, dengan terlebih dahulu memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan aset atau potensi yang bisa dikembangkan untuk merencanakan program sekolah yang berdampak positif pada murid.
Modul 1.4. Budaya Positif
Lingkungan yang mendukung perkembangan potensi, minat dan profil belajar murid terutama kekuatan kodrat pada anak-anak. Guru sebagai pendidik hendaknya dapat mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya positif agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman dan mendukung program yang berdampak positif pada murid.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk memenuhi
kebutuhan belajar murid
Guru sebagai pendidik dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi menjadi salah satu alternatif pembelajaran di kelas yang sesuai dengan karakteristik dan kecerdasan murid. Guru melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat dan profil belajar murid. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan belajar, profil dan minat belajar murid.
Modul 2.2 Pembelajaran emosional dan social
Guru diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) menjadi strategi pengembangan lima kompetensi sosial emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid
Modul 2.3, Coaching untuk supervisi akademik
Coaching sebagai strategi seorang pemimpin pembelajaran untuk menuntun anak dan menggali potensi yang dimiliki oleh anak. Coaching juga memberikan keleluasaan anak-anak berkembang dan menggali proses berpikir. Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, mengembangkan kepemimpinan murid, menggali potensi murid
Modul 3.1 Pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai
kebajikan seorang pemimpin.
Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat mengambil keputusan secara bijaksana, yaitu keputusan yang berpihak pada murid. Dasar, prinsip, paradigma atau nilai dalam pengambilan keputusan harus konsisten, terutama berkaitan dengan dilema etika atau bujukan moral. Guru sebagai pendidik diajarkan untuk bisa mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin.
Modul 3.2 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran maupun pengelola program sekolah harus dapat memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik aset fisik maupun non fisik. Pendekatan berbasis aset/kekuatan dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah/kekurangan. Paradigma berpikir harus melihat sisi positif yang dimiliki oleh sekolah. Dengan berfokus pada aset yang dimiliki, maka pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dan terealisasi dengan baik.
Modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid.
Pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dapat memanfaatkan 7 aset atau modal yang dimiliki sekolah. Yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya. Dengan mengetahui modal atau sumber daya yang ada di sekolah, maka sebagai pemimpin guru harus bisa memetakan 7 aset tersebut dan mengoptimalkan pengelolaannya untuk peningkatan pembelajaran di sekolah.
Jelaskan perspektif program yang berdampak positif pada murid
dan bagaimana program atau kegiatan sekolah harus direncanakan,
dilaksanakan, dan dievaluasi agar program dapat berdampak positif pada murid?
Program yang berdampak positif pada murid tentunya melibatkan kepemimpinan murid dengan memberikan ruang dan mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Harapannya, murid merasa bahagia dan sejahtera. Kodrat anak yang memiliki ragam potensi dan bakat dapat tergali dan dituntun menuju kepada kebahagian yang setinggi-tingginya. Mengenali program atau kegiatan sekolah dengan perencanaan, pelaksanaan dan refleksi evaluasi dilakukan secara kolaboratif dan memberdayakan aset/kekuatan sumber daya yang dimiliki sekolah.
Perencanaan program dilaksanakan secara kolaboratif berdasarkan kebutuhan murid dengan mewujudkan lingkungan karakteristik yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid didukung sumber daya, aset, modal, potensi, kekuatan yang dimiliki sekolah melalui prakarsa perubahan dengan paradigma inkuiri apresiatif BAGJA.
Pelaksanaan program atau kegiatan ini memberdayakan murid untuk menjadi pemimpin dalam proses belajarnya sendiri. Murid mampu mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan sendiri melalui proses yang memerdekakan sehingga murid mampu menjadi agen perubahan dan guru menjadi mitra belajar
Evaluasi terhadap program atau kegiatan membutuhkan kolaborasi seluruh
warga sekolah. Melakukan penilaian, refleksi evaluasi secara menyeluruh,
sistematis, berkala dan berkelanjutan untuk mengukur seberapa efektif dampak
positif yang diharapkan muncul.

