PEMBELAJARAN SOSIAL & EMOSIONAL
Koneksi
Antar Materi Modul 2.2
By: Makder Lumban Gaol,
M.Pd
CGP Angkatan ke-10

Pendidikan
tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang perkembangan pribadi dan
sosial murid. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik harus menyadari betapa
pentingnya perkembangan murid secara holistik bukan hanya intelektual, tetapi
juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Adanya kasus perundungan di
sekolah, murid yang memiliki motivasi belajar rendah, murid dengan gangguan
emosional seperti stres, kecemasan, menunjukkan masih lemahnya perkembangan
sosial dan emosional para murid. Guru sebagai pendidik harus bisa menerapkan
pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional murid.
Pembelajaran Sosial Emosional adalah proses belajar yang berhubungan dengan
pemahaman diri, empati terhadap orang lain, serta kemampuan berinteraksi dan
berkomunikasi secara efektif. Pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman
belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi sosial dan
emosional (KOMPETENSI SOSIAL DAN EMOSIONAL), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan
berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Sebagai
Pendidik, Guru harus dapat mengeksplorasi PSE melalui empat indikator yaitu,
pengajaran eksplisit seperti kegiaan kokurikuler dan ekstrakurikuler, integrasi
dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik dengan menyusun konten
pembelajaran, strategi pembelajaran maupun produk pembelajaran, penciptaan
iklim kelas dan budaya sekolah.
Menurut saya, pembelajaran
sosial dan emosional sangat erat kaitannya dengan. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Guru dapat menuntun murid
untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan jika murid memiliki kesadaran diri dan
mengelola emosi dengan baik. Guru sebagai Pamong, membutuhkan pemahaman dan
penguasaan terhadap kompetensi sosial emosional yang matang. Murid diajak untuk
menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami pengalaman belajar yang
dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek
sosial dan emosional.
Keterkaitan Pembelajaran
Sosial Emosional dengan Nilai dan
Peran Guru Penggerak, dapat menumbuhkan nilai dan peran kepada guru dan
murid dalam pengelolaan emosi. Harapannya,
nilai kemandirian dan pembelajaran yang berpusat pada murid serta peran guru
penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mendorong kolaborasi dapat tercapai
dan berjalan seimbang.
Keterkaitan antara Pembelajaran
Sosial Emosional dengan Visi Guru
Penggerak, dapat mewujudkan visi yang diharapkan melalui prakarsa perubahan
dengan memberikan pembelajaran kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial,
kemampuan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sehingga
diharapkan dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Keterkaitan antara Pembelajaran
Sosial Emosional dengan Budaya
Positif adalah guru dan murid mampu mengontrol diri dan dapat menciptakan suasana yang
menyenangkan yang berpengaruh dalam penerapan budaya positif baik berupa
disiplin positif maupun keyakinan kelas dengan sebaik mungkin sesuai dengan
kesadaran diri dan manajemen diri.
Keterkaitan antara Pembelajaran
Sosial Emosional dengan Pembelajaran
Berdiferensiasi adalah guru
dapat menerapkan pembelajaran dengan mengetahui perasaan dan emosi. Dalam pembelajaran
berdiferensiasi, guru mengakomodir kebutuhan murid dengan memetakan kebutuhan
murid ditinjau dari kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid. Dalam implementasinya, guru sebagai pendidik
dapat menerapkan strategi diferensiasi konten, proses, produk dan
lingkungan belajar, sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan
kebutuhan murid. Harapannya adalah murid dapat bahagia sesuai dengan tujuan
pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka
mendapatkan keselamatan dan kebahagian yang esetingi-tingginya.
Sebelum mempelajari modul Pembelajaran
Sosial dan Emosional, saya berpikir bahwa kompetensi sosial dan emosional akan
terbentuk dengan sendirinya bersamaan dengan pembelajaran di kelas sehingga saya
hanya fokus pada proses penyampaian pengetahuan sesuai dengan tuntutan kurikulum.
Setelah mempelajari modul tersebut, saya
menyadari bahwa pembelajaran sosial emosional sangat penting diterapkan di kelas
karena mengesampingkan pengembangan keterampilan sosial dan emosional akan menyebabkan
pembelajaran tidak berpihak pada murid.
Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan
nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan
kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 (tiga) hal
mendasar dan penting yang penulis pelajari adalah:
1. Peningkatan kompetensi sosial emosional yang terdiri dari: kesadaran
diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan
keputusan yang bertanggungjawab.
2. Kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan kompetensi
sosial dan emosional.
3. Penerapan pembelajaran sosial dan emosional harus berbasis
kesadaran penuh yang terhubung, terkoordinir, aktif, fokus dan eksplisit dapat
mendukung terwujudnya well-being ekosistem sekolah.
Berkaitan dengan tiga hal mendasar di atas, perubahan yang saya
terapkan di kelas dan sekolah bagi murid-murid adalah sebagai berikut:
1. Pengajaran eksplisit, yaitu dengan memastikan
murid memiliki kesempatan yang konsisten dalam menumbuhkan, melatih dan
berefleksi tentang kompetensi social emosional yang terdiri dari kesadaran
diri, manajemen diri, kesadaran social, keterampilan social dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab.
2. Pembelajaran akademik terintegrasi kompetensi
sosial dan emosional, yaitu dengan mengintegrasikannya ke dalam konten
pembelajaran dan strategi pembelajaran pada mata pelajaran matematika
3. Keterlibatan murid, yaitu melibatkan murid
sebagai pemimpin, pemecah masalah, dan pembuat keputusan.
Adapun perubahan yang saya terapkan di
kelas dan sekolah bagi rekan sejawat:
1. Menjadi teladan, yaitu dengan menerapkan
kompetensi sosial dan emosional dalam peran dan tugas, menciptakan budaya positif,
dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap warga sekolah
2. Belajar, yaitu melakukan
refleksi kompetensi sosial dan emosional pribadi, berkolaborasi antar rekan
sejawat, mengembangkan pola pikir bertumbuh, memahami tahapan perkembangan
murid, meluangkan waktu untuk berintropeksi berperan serta dalam berbagi praktik baik di komunitas
belajar
3. Berkolaborasi, yaitu membuat
kesepakatan bersama-sama, membuat komunitas belajar profesional, membuat sistem
mentoring rekan sejawat, dan mengintegrasikan kompetensi sosial dan emosional dalam
setiap kegiatan dan program sekolah.
Pendidikan yang
baik tidak hanya menghasilkan akademisi yang cerdas, tetapi juga individu yang
kuat secara emosional dan sosial, siap untuk menghadapi tantangan di dunia
nyata. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik harus memberikan perhatian yang
layak pada pembelajaran social dan emosional dalam sistem pendidikan yang di
mulai dari dalam kelas disetiap mata pelajaran.