Sabtu, 29 Juni 2024

PEMBELAJARAN SOSIAL & EMOSIONAL
Koneksi Antar Materi Modul 2.2
By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10

Pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang perkembangan pribadi dan sosial murid. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik harus menyadari betapa pentingnya perkembangan murid secara holistik bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Adanya kasus perundungan di sekolah, murid yang memiliki motivasi belajar rendah, murid dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, menunjukkan masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid. Guru sebagai pendidik harus bisa menerapkan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional murid.

 Pembelajaran Sosial Emosional adalah proses belajar yang berhubungan dengan pemahaman diri, empati terhadap orang lain, serta kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. Pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi sosial dan emosional (KOMPETENSI SOSIAL DAN EMOSIONAL), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Sebagai Pendidik, Guru harus dapat mengeksplorasi PSE melalui empat indikator yaitu, pengajaran eksplisit seperti kegiaan kokurikuler dan ekstrakurikuler, integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik dengan menyusun konten pembelajaran, strategi pembelajaran maupun produk pembelajaran, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah.

 Menurut saya, pembelajaran sosial dan emosional sangat erat kaitannya dengan. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Guru dapat menuntun murid untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan jika murid memiliki kesadaran diri dan mengelola emosi dengan baik. Guru sebagai Pamong, membutuhkan pemahaman dan penguasaan terhadap kompetensi sosial emosional yang matang. Murid diajak untuk menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami pengalaman belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

 Keterkaitan Pembelajaran Sosial Emosional dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak, dapat menumbuhkan nilai dan peran kepada guru dan murid dalam pengelolaan emosi.  Harapannya, nilai kemandirian dan pembelajaran yang berpusat pada murid serta peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mendorong kolaborasi dapat tercapai dan berjalan seimbang.

 Keterkaitan antara Pembelajaran Sosial Emosional dengan Visi Guru Penggerak, dapat mewujudkan visi yang diharapkan melalui prakarsa perubahan dengan memberikan pembelajaran kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab sehingga diharapkan dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

 Keterkaitan antara Pembelajaran Sosial Emosional dengan Budaya Positif adalah guru dan murid mampu mengontrol diri dan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan yang berpengaruh dalam penerapan budaya positif baik berupa disiplin positif maupun keyakinan kelas dengan sebaik mungkin sesuai dengan kesadaran diri dan manajemen diri.

 Keterkaitan antara Pembelajaran Sosial Emosional dengan Pembelajaran Berdiferensiasi adalah guru dapat menerapkan pembelajaran dengan mengetahui perasaan dan emosi. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru mengakomodir kebutuhan murid dengan memetakan kebutuhan murid ditinjau dari  kesiapan belajar  murid, minat, dan profil belajar murid.  Dalam implementasinya, guru sebagai pendidik dapat menerapkan  strategi diferensiasi konten, proses, produk dan lingkungan belajar, sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan murid. Harapannya adalah murid dapat bahagia sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka mendapatkan keselamatan dan kebahagian yang esetingi-tingginya.

 Sebelum mempelajari modul Pembelajaran Sosial dan Emosional, saya berpikir bahwa kompetensi sosial dan emosional akan terbentuk dengan sendirinya bersamaan dengan pembelajaran di kelas sehingga saya hanya fokus pada proses penyampaian pengetahuan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Setelah mempelajari modul tersebut, saya menyadari bahwa pembelajaran sosial emosional sangat penting diterapkan di kelas karena mengesampingkan pengembangan keterampilan sosial dan emosional akan menyebabkan pembelajaran tidak berpihak pada murid.

 Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 (tiga) hal mendasar dan penting yang penulis pelajari adalah:

1.  Peningkatan kompetensi sosial emosional yang terdiri dari: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

2.   Kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan kompetensi sosial dan emosional.

3.    Penerapan pembelajaran sosial dan emosional harus berbasis kesadaran penuh yang terhubung, terkoordinir, aktif, fokus dan eksplisit dapat mendukung terwujudnya well-being ekosistem sekolah.

Berkaitan dengan tiga hal mendasar di atas, perubahan yang saya terapkan di kelas dan sekolah bagi murid-murid adalah sebagai berikut:

1.     Pengajaran eksplisit, yaitu dengan memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten dalam menumbuhkan, melatih dan berefleksi tentang kompetensi social emosional yang terdiri dari kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran social, keterampilan social dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

2.   Pembelajaran akademik terintegrasi kompetensi sosial dan emosional, yaitu dengan mengintegrasikannya ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada mata pelajaran matematika

3.  Keterlibatan murid, yaitu melibatkan murid sebagai pemimpin, pemecah masalah, dan pembuat keputusan.

Adapun perubahan yang saya terapkan di kelas dan sekolah bagi rekan sejawat:

1.    Menjadi teladan, yaitu dengan menerapkan kompetensi sosial dan emosional dalam peran dan tugas, menciptakan budaya positif, dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap warga sekolah

2. Belajar, yaitu melakukan refleksi kompetensi sosial dan emosional pribadi, berkolaborasi antar rekan sejawat, mengembangkan pola pikir bertumbuh, memahami tahapan perkembangan murid, meluangkan waktu untuk berintropeksi berperan serta  dalam berbagi praktik baik di komunitas belajar

3.  Berkolaborasi, yaitu membuat kesepakatan bersama-sama, membuat komunitas belajar profesional, membuat sistem mentoring rekan sejawat, dan mengintegrasikan kompetensi sosial dan emosional dalam setiap kegiatan dan program sekolah.

Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan akademisi yang cerdas, tetapi juga individu yang kuat secara emosional dan sosial, siap untuk menghadapi tantangan di dunia nyata. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik harus memberikan perhatian yang layak pada pembelajaran social dan emosional dalam sistem pendidikan yang di mulai dari dalam kelas disetiap mata pelajaran.


1 komentar:

  1. Menjadi pendidikan yang kehadirannya dirindukan oleh murid di dalam kelas

    BalasHapus