BLOG RANGKUMAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Koneksi Antar Materi Modul 3.1
By: Makder Lumban Gaol,
M.Pd
CGP Angkatan ke-10
Guru sebagai
pendidik tidak hanya berperan untuk mentransfer ilmu, tetapi juga harus
berperan sebagai pamong/ memberikan tuntunan kepada peserta didik. Pemahaman
materi memang penting namun menuntun murid memiliki kepribadian yang sesuai
profil pelajar pancasila harus menjadi target utama. Tujuannya adalah mereka
dapat hidup di masyarakat dengan damai, bermanfaat bagi sekitar, dan tentunya
bisa melayani masyarakat dengan baik. Murid harus diberikan motivasi untuk
belajar sepanjang hayat/ long life education. Sehingga tujuan pendidikan yang
digagas oleh Ki Hajar Dewantara dapat terwujud.
Dalam pengambilan setiap keputusan seharusnya dapat dipertanggungjawabkan, tidak bertentangan dengan nilai kebajikan, dan berpihak pada murid. Dengan 3 dasar ini kita dapat mengambil keputusan yang memaksimalkan dampak positif. Adapun 3 prinsip pengambilan keputusan adalah prinsip berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis aturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Dengan 3 prinsip ini dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi setiap keputusan yang diambil. Pertimbangan dan langkah sesuai dengan 9 langkah pengambilan keputusan dimana sebuah keputusan harus melalui proses dan tidak dihasilkan secara instan. Dengan demikian, dapat mengambil keputusan dengan sebaik mungkin. Dalam proses pengambilan keputusan, dapat menerapkan tahapan coaching sehingga coachee dapat menemukan solusi atas masalahnya sendiri dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada
solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi
peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan
pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching sebagai kunci pembuka
potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003).
Coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan
potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang
menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International
Coach Federation -ICF). Tujuan utama coaching adalah membantu coacheeberpikir
kritis dan kreatif untuk menemukan sendiri solusi berdasarkan potensi yang
dimiliki. Coachee sebenarnya sudah diarahkan melakukan 9 langkah mengambil
keputusan dengan proses coaching ini sehingga diharapkan dapat mengambil
keputusan yang terbaik.
Menurut saya, pendidikan bersifat relatif, tidak kaku, dan sebagai
seni yang indah, bermakna dalam. Pendidikan berfungsi sebagai terapan maupun
keindahan. Dengan segala dinamika dan sentuhannya, kayu yang awalnya biasa
dapat dibentuk sebagai barang tepat guna maupun ditonjolkan lekukannya untuk
menjadi mahakarya yang indah. Seperti itu juga pendidikan dengan segala
prosesnya dapat menguatkan karakter murid, mempertajam pikiran dan menanamkan
nilai-nilai kebajikan sehingga murid dapat menguasai ilmu dan teknologi,
memanfaatkannya bagi kehidupannya di masyarakat.
Patrap Triloka adalah ajaran KHD yang memuat 3 hal yaitu ing
ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di
tengah memotivasi), dan tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan).
Sebagai seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan dan panutan, menjadi
motivator yang selalu mengutamakan komunikasi efektif agar selalu terjalin relasi
yang baik. Dengan patrap triloka ini diharapkan pengambilan keputusan selalu
berpihak pada murid. Dasar dalam pengambilan keputusan mencakup 3 hal yaitu
nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Nilai-nilai tersebut yang akan menjadi dasar penentuan benar/salah sehingga
kita dapat membedakan kasus yang termasuk dilema etika atau bujukan moral.
Dalam pengambilan keputusan, diperlukan emosi yang stabil sehingga
pengambil keputusan didasari oleh kesadaran diri dan kesadaran sosial yang
baik. Pada proses pengambilan keputusan, pikiran jernih sangat berpengaruh pada
identifikasi dilema etika/bujukan moral, melakukan berbagai uji, dan prinsip
yang akan digunakan dalam penyelesaian suatu masalah. Pada langkah pertama
pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus bisa mengenali nilai-nilai
kebenaran yang saling bertentangan. Nilai-nilai tersebut berperan dalam mengidentifikasi
apakah benar/salah. Pada uji intuisi seseorang akan membandingkan dan
mengkonfirmasi apakah suatu keputusan sesuai dengan kode etik keprofesian dan
nilai- nilai kebajikan yang selama ini diyakini. Suatu keputusan yang tepat akan
mengedepankan kepentingan umum dari pada individu. Hal ini akan mewujudkan rasa
nyaman, dilindungi, adil, tanpa protes yang akan mengakibatkan ketidaknyamanan
di lingkungan tersebut. Kondisi ketidaknyaman tentunya akan dirasakan beberapa
orang saat keputusan dihasilkan, namun dengan proses adaptif dan prinsip
mendapatkan hasil terbaik, maka akan tercipta suasana aman dan nyaman yang
dapat dirasakan oleh semua pihak.
Tantangan-tantangan di lingkungan saya pada pengambilan keputusan
kasus dilema etika adalah cara pandang/ mindset yang melemahkan
kebijakan/peraturan dalam sebuah intitusi akibat keputusan yang diambil. Secara
umum, pengambilan keputusan masih kaku, dan peraturan yang sudah ada harus
ditaati. Ketika dihadapkan dengan persoalan dilema etika, secara umum masih
mengacu pada aturan yang ada tanpa memikirkan apakah keputusan yang diambil
berpihak pada murid atau tidak.
Seorang pemimpin pembelajaran selalu mengusahakan keputusan yang
berpihak pada murid. Dengan berbagai prinsip pengambilan keputusan yaitu
ends-based thinking, rule-based thinking, dan care-based thinking, maka keputusan
selalu mengedepankan kebaikan untuk masa depan murid. Guru sebagai fasilitator
tentunya berperan sebagai penuntun sekaligus teladan yang dapat diadopsi cara
dan langkahnya dalam penyelesaian masalah yang dihadapi.
Kesimpulan akhir
yang dapat saya tarik dari pemebelajaran modul 3.1 adalah bahwa sebagai
pemimpin pembelajaran, seorang guru harus dapat mengambil keputusan yang sesuai
dengan nilai – nilai kebajikan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan
berpihak pada murid. Sesuai dengan ajaran KHD bahwa pendidikan adalah menuntun murid mencapai
kebahagiaan (modul
1.1). Pendidik harus berperan berpihak pada murid,
mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif (modul 1.2). Dalam
pengambilan keputusan kita akan mengaplikasikan kelima peran guru penggerak.
Selain berpihak pada murid, guru harus mandiri dan reflektif. Setiap keputusan
yang diambil dievaluasi secara mandiri dan dibuat refleksi untuk memastikan
dampak positif dari pengambilan keputusan.
Guru diharapkan
menjadi pemrakarsa perubahan, hal ini melibatkan banyak pengambilan keputusan
yang besar. Sebagai acuan guru dapat menyusun visi yang berorientasi ke depan
untuk diri, murid, dan sekolah secara keseluruhan. Langkah yang dapat ditempuh
adalah dengan BAGJA
(Buat Pertanyaan – Ambil Pelajaran – Gali Mimpi – Atur Eksekusi – Jabarkan
Rencana) (modul 1.3). Melalui langkah – langkah ini
dapat dipahami bahwa setiap keputusan membuat suatu perubahan semuanya
mengedepankan manfaat dan evaluasi untuk memastikan apa yang dijalankan adalah
sesuai dengan visi masa depan.
Visi akan
terwujud jika budaya
positif di sekolah sudah terwujud. Ada keyakinan kelas
maupun sekolah yang disepakati bersama. Jika ada penyimpangan, dilakukan
penyelesaian masalah dengan segitigita
restitusi sehingga pihak – pihak yang terlibat menyadari
kesalahannya dan menemukan solusi atas permasalahannya (modul 1.4). Disini
sering terjadi juga dilema etika dan bujukan moral yang harus dikenali dengan
baik oleh pemimpin pembelajaran sehingga keputusan yang dihasilkan adalah tepat
dan berdampak positif. Dengan demikian akan terwujud masyarakat sekolah yang
harmonis dan berdisiplin positif.
Visi dalam
pembelajaran tentunya memenuhi kebutuhan setiap murid. Guru dapat
melakukan pembelajaran
berdiferensiasi untuk memfasilitasi murid dengan berbagai
kemajemukan gaya belajar dan tingkat kesiapan (modul 2.1). Dengan
bantuan tes diagnostik dan karakteristik materi yang akan dipelajari oleh
murid, seorang guru harus membuat suatu keputusan model dan strategi
pembelajaran yang akan dipilih. Hal ini tentu membutuhkan banyak pertimbangan
dan perencanaan. Keputusan macam diferensiasi yang akan dipilih dan
dikembangkan dalam modul ajar atau RPP dapat dievaluasi efektif atau tidaknya
dengan evaluasi hasil belajar siswa.
Setiap keputusan
yang baik tentunya dihasilkan oleh pikiran yang jernih dan kondisi emosi yang
stabil. Sebagai pemimpin pembelajaran yang berinteraksi dengan murid yang
beragam tentunya tidak jarang menemukan masalah – masalah yang dapat mengganggu
proses pembelajaran itu sendiri. Disinilah Kesadaran Sosial Emosional (KSE) harus
berjalan dengan baik (modul
2.2). KSE ini meliputi Kesadaran diri, Manajemen diri,
Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang
Bertanggungjawab. Dalam penyelesaian masalah seseorang harus hadir sepenuhnya
(mindfullness) sehingga fokus menjadi baik dan keputusan yang diambil sesedikit
mungkin dampak negatifnya.
Dampak negatif
yang kecil dapat kita peroleh juga dengan proses coaching yang baik, dimana
coach berperan sebagai mitra yang siap membantu coachee untuk meningkatkan
performa kerja, menemukan solusi atas permasalahannya, dan mengembangkan
potensi yang dimilikinya. Dalam pembelajaran utamanya, peningkatan kualitas
pembelajaran dapat dilakukan melalui supervisi akademik (modul 2.3).
Menurut pemahaman saya, sebagai pemimpin pembelajaran, dalam membuat keputusan/penyelesaian masalah dasar utamanya ada 3 hal yaitu nilai – nilai kebajikan, dapat dipertanggungjawabkan, dan berpihak pada murid. Nilai – nilai kebajikan ini digunakan untuk mengenali dua kasus yang bernilai benar namun bertentangan. Nilai ini juga untuk dasar melakukan pengujian keputusan. Prinsip yang digunakan diantaranya ends-based thinking, rule-based thinking, dan care-based thinking. Dengan berbagai macam pertimbangan dan langkah – langkah diharapkan hasil yang diperoleh merupakan keputusan terbaik dengan memaksimalkan dampak positif dan win – win solution untuk semua pihak. Hal – hal tidak terduga yang diluar dugaan adalah dengan komunikasi dan kolaborasi pengambilan keputusan dapat lebih maksimal menghasilkan berbagai alternatif penyelesaian (opsi trilema) sehingga kedua hal ini sangatlah penting dalam proses pengambilan keputusan.

Mantap pak makder.. sangat menginspirasi... Tetap semangat pak.. untuk tergerak, bergerak dan menggerakkan...
BalasHapusPak Makder memang selalu memberikan inspirasi untuk guru lainnya, terus berkarya 🙏💪👍💪
BalasHapusKetua kami yang sangat inspiratif, good job Pak, sukses terus tuk Pak Makder
BalasHapusLuar biasa Pak Makder, untaian kata yang mempunyai makna sangat inspiratif. Teruslah berkarya, dan berbagi kebaikan. Sukses untuk Pak Makder
BalasHapusSangat menginspirasi Pak..
BalasHapusMantap pak Makder luar biasa sangat menginspirasi....semoga sukses pak....
BalasHapusMantap pak...mjd seorang guru tidak hanya bisa mengajar saja..harus bisa memberikan nilai nilai moral dan etika,kebajikan agar mereka dpt bermanfaat ditengah tengah kehidupan bermasyarakat...👍
BalasHapusMantap.. Bernilai positif ,,terus menghasilkan karya yang membangun dan menginspirasi banyak orang
BalasHapusLuar biasa, inspiratif.
BalasHapusMenginspirasi kami sebagai rekan guru untuk memahami Nilai - nilai Etika di dalam lingkungan masyarakat dan sekolah.
BalasHapusSukses selalu Pak Makder Lumban Gaol...
luar biasa pak ketua... menginspirasi sekali. kebajikan universal adalah nilai-nilai yang menjadi tumpuan dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin
BalasHapus