Jumat, 14 Juni 2024

BUDAYA POSITIF DI SEKOLAHKU


 

By: Makder Lumban Gaol, M.Pd
CGP Angkatan ke-10
SMAN 1 Pangkalan Lesung - Pelalawan

 

“Janji Murid” yang diucapkan murid SMAN 1 Pangkalan Lesung setiap hari senin pada poin “adap terhadap orang  tua, hormat terhadap guru serta menjunjung tinggi derajat dan martabat sekolah” sangatlah penting diterapkan, terutama dalam menjalani kehidupan sosial. Tatakrama beretika sopan santun ini bukan hanya harus di terapkan pada setiap kegiatan formal
atau bertemu orang tertentu saja, namun hal tersebut juga harus dilakukan baiknya dalam pergaulan sehari-hari, sehingga dapat dijadikan suatu pembiasaan positif yang akan terus di laksanakan.
Peran orang tua dan kita sebagai pendidik juga sangat penting untuk mengajarkan etika sopan santun sejak dini.

Murid diibaratkan seperti lembar kosong kertas putih. Dengan kepolosannya, mereka akan terbentuk seperti apa yang kita inginkan. Sebagai pendidik, tentu kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan menjadikannya menjadi pribadi yang baik. Tentu saja, hal ini penting untuk masa depannya. Pendidik sangat berperan dalam pembentukan etika sopan santun, karena sekolah merupakan tempat yang kedua bagi murid dalam membentuk kepribadian selain lingkungan keluarga.

Di SMAN 1 Pangkalan Lesung, saya sebagai pendidik berupaya untuk menerapkan pembiasaaan-pembiasaan positif. Diawal memulai kegiatan pembelajaran, saya sebagai pendidik dan murid membuat kesepakatan kelas terutama dalam hal berkomunikasi. Pembuatan kesepakatan kelas sebagai salah satu bentuk didisplin positif yang dilaksanakan di dalam kelas. Tujuan dibuatnya kesepakatan kelas adalah mengajarkan murid untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dibuat dan disepakati bersama. Kesepakatan yang dibuat salah satunya dalam bentuk berkomunikasai yaitu pembiasaan untuk meminta izin jika ada kendala atau permasalahan dalam mengikuti pembelajaran.

Di SMAN 1 Pangkalan Lesung, saya sebagai pendidik mencoba memposisikan diri sebagai manajer dengan mempersilahkan murid untuk bertanggung jawab atas perilakunya dan mencari solusinya sendiri. Saya sebagai pendidik mencoba untuk menghilangkan motivasi hukuman dan penghargaan diganti dengan konsekuensi dan apresiasi dengan menerapkan segitiga restitusi sebelumnya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan filosofi pendidikan nasional    Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak, untuk tumbuh dan berkembang, segingga mereka mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya, baik sebagai individu atau anggota masyarakat. 

Pembiasaan positif yang saya terapkan saat pembelajaran adalah menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya melakukan assesmen awal (kognitif dan non kognitif) untuk mengetahui kebutuhan belajar murid. Tujuannya adalah untuk mengakomodir kebutuhan belajar murid dilihat dari kesiapan belajar, profil belajar, dan minat murid. Saya mendesain modul ajar sesuai dengan kebutuhan murid, dan selanjutnya, sebagai pendidik menerapkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Melibatkan murid secara aktif dalam kegiatan dan proyek, yang memungkinkan mereka untuk mempraktekkan keterampilan dan konsep-konsep yang mereka pelajari. Hal ini akan membantu murid untuk memahami dan mengingat konsep-konsep dengan lebih baik, serta memberikan mereka pengalaman nyata dalam menghadapi situasi dunia nyata.

Contoh lain penerapan budaya positif di lingkungan SMAN 1 Pangkalan Lesung seperti budaya antri, budaya 5S (bersalaman dengan guru di waktu pagi ketika masuk gerbang sekolah), menaati aturan sekolah, kebersihan membuang sampah pada tempatnya, penampilan bakat miat setiap hari Rabu Pagi, Program sehat melalui program senam setiap kamis pagi, dan makan bersama seluruh warga SMAN 1 Pangkalan Lesung yang dilaksanakan setiap 1 kali dalam satu semester. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengungkapkan bahwa disiplin kepada anak adalah disiplin diri, sebab hanya diri sendiri yang mampu mengontrol diri. Penerapan disiplin positif terlaksana bukan keterpaksaan, akan tetapi murid sendirilah yang akan menginginkan dirinya menaati peraturan sesuai dengan kesadaran masing-masing.

Dengan penjelasan di atas, diharapkan budaya positif  di SMAN 1 Pangkalan Lesung dapat terwujud dan sekolah sebagai tempat menyemai benih kebudayaan atau pembentukan karakter, bukan hanya sebagai mimpi indah yang hanya menjadi cerita indah dalam buku-buku teks pelajaran.

1 komentar: